Pasar Tradisional di Tengah Modernisasi

Rencana besar kota Yogyakarta, solo dan juga kota lainnya untuk mendatangkan investasi besar- besaran dalam bentuk  pembangunan mal dan pusat perbelanjaan, di sambut  kegelisahan pedagang pasar tradisional dan mengundang respon masyarakat luas. Keberatan yang disampaikan oleh Asosiasi pedagang pasar seluruh Indonesia, pendirian  hypermarket selama ini dikhawatirkan  semakian mematikan usaha perdagangan pasar tradisional yang memiliki keterbatasan modal dan akses bisnis.

Lagi- lagi kita harus  bertanya tentang keberpihakan  pemerintah terhadap arah perkembangan ekonomi guna meningkatkan  kesejahteraan masyarakat. Tentu masih hangat dalam ingatan, contoh gejolak masyarakat terhadap rencana renovasi pasar KLewer menjadi mal di kota solo, melahirkan kegelisahan dan keresahan social dan kemudian muncul arus penilakan begitu deras.

Bisingnya pasar karena mekanisme harga luncur, penetuan harga lewat tawar- menawar akan hilang digantikan denga mekanisme harga pasti. Dari sebuah ruang yang penuh kegiatan, riuh rendah perdagangan menjadi pasar yang diam. Menjadi pasar yang bertemu untuk saling menyembunyikan warna sebuah interaksi, inilah yang disebut pasar modern ( mal, hypermarket , supermarket) . Secara ekonomis , pasar tradisional mampu menghidupi ribuan orang. Ini tentu berbeda dengan mal, tenaga kerja yang terserap tak akan melebihi jumlah yang bekerja  di pasar tradisional. Di pasar tradisional, di jumpai pedagang besar hingga pedagang oprokkan. Dan tak lupa bahwa perkembangan ekonomi dengan pasar tradisional sebenarnya membuka ruang bagipemberdayaan ekonomi lokal. Dalam prasara tradisional masih berjalan mekanisme harga yang ditentukan lewat tawar- menawar,bahwa pola ngalap nyaur dalam pembayaran barang. Mekanisme ini memiliki potensi yang tak ternilai  bagi terbangunnya perasaan  saling mempercayai (trust), saling menghormati, sampai pada perasaan empati pada sesame, nilai-nilai yang kita sulit temui pada mekanisme perdagangan di pasar modern . pasar tradisional hendaklah dipahami tidak sekedar tempat transaksi jual beli, namun secara alami telah terbentuk komunitas dari berbagai kelompok sosial. Komunitas yang telah lama terbangun , berbentuk atas berbagai unsur mulai dari pedagang, penarik becak, kuli angkut, pedagang kaki lima, pedagang oprokan hingga pemasok ( supplier) juga konsumen.

Komunitas ini tidak bisa semena- mena dicerai- berai karena setiap unsur dalam komunitas ini memiliki sumbangsih sendiri bagi kehidupan pasar. Kesemuanya menggantukan hidup dari pasar. Tak dapat disangkal, rencana malisasi ini sangat mungkin akan mematikan potensi lokal system budaya, sosial dan ekonomi.

Perubahan dalam mekanisme pasar dari pasar tradisional ke modern, tentu buah dari perubahan pola relasi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Dari pasar tradisional yang mengedepankan pola hubungan intim menjadi pola hubungan impersonal khas pasar modern.

Apa yang mesti dilakukan pemerintah sebagai pengelola kebijakan dalam kerangka usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tanpa terjebak kekuatan modal? Harapannya adalah tentu setiap kebiajakn yang di keluarkan hendaknya tidak kontra produktif dengan apa yang sebenarnya berkembang di masyarakat.

Pemerintah sebagai penyedia layanan, mempunyai kewajiban untuk mengatur berbagai benturan kepentingan sebagai akibat perkembangan dari masyarakat. Berkembangnya ekonomi kapitalis tentu tidak harus menggilas kearifan ekonomi kerakyatan. Bukan atas nama investasi dan pendapatan daerah, maka dengan mudah mengubah berbagai ruang sosial menjadi ruang yang semata- mata untuk kepentingan ekonomi.

Maka , ketika pemerintah gagal mengelola pasar tradisional menghadapi lajunya pertumbuhan  pasar modern akan sangat mempengaruhi eksistensi pasar tradisional. Juga kita akan segera melihat perubahan- perubahan besar pada pola relasi social masyarakat.  Pusat kebudayaan tidak lagi di pasar- pasar tradisional, akan tetapi akan beralih ke mal, hypermarket dan supermarket, sebagai wujud dari pasar modern. Akankah dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi pasar tradisional hanya tinggal kenangan ?

Sumber : Kompas, senin 10 Januari 2005

 

 

2 responses to “Pasar Tradisional di Tengah Modernisasi

  1. apa yang terjadi di pasar tradisional di tengah modernisasi ?.,., alasan !.,.,

  2. mungkin karena sekarang itu pasar tradisional sudah jarang d kunjungi oleh pengunjung karena sekarang sudah banyak supermarket yang lebih higienis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s