Warga Negara Ganda Bukan Masalah

KabarIndonesia – Berpaspor ganda bukanlah kendala untuk integrasi. Dalam dunia yang sudah mengglobal, orang lebih sering berdua paspor, dan itu baik-baik saja. Demikian WRR, Dewan Ilmu Pengetahuan untuk kebijakan pemerintah dalam laporan kepada pemerintah Belanda. Dengan laporan ini maka kembali di Belanda bangkit diskusi tentang warga negara ganda.Keterikatan seseorang

Sejak awal tahun ini Belanda diramaikan oleh debat tentang paspor ganda. Anggota parlemen yang kontroversial Geert Wilders pemimpin Partai Kebebasan PVV menyatakan pejabat pemerintah dengan paspor ganda tidak sepenuhnya loyal terhadap Belanda. Mereka harus menyerahkan salah satu paspor mereka. Namun menurut dewan ilmu pengetahuan WRR, mustahil untuk mengatakan di Belanda hanya ada satu identitas.

Dalam laporannya, WRR ingin menjelaskan terdapat banyak cara melihat keterikatan seseorang pada satu negara, dan kemudian setia pada negara itu. Menurut Pauline Meurs, anggota WRR, itu lebih menyangkut perasaan diterima oleh sebuah negara, pekerjaan apa yang dimiliki dan kemungkinan melibatkan diri dalam debat masyarakat.

Pauline Meurs: ‘Kami ingin menjelaskan ada beberapa cara bagaimana seseorang merasa memiliki sebuah negara dan setia pada negara itu. Tidak saja menyangkut identitas nasional, soal sejarah atau masa lampau. Namun lebih jauh lagi tentang pekerjaan, tentang perasaan diterima dan tentang turut aktif dalam debat publik dan hal semacam itu lain. Dan tampaknya di Belanda, jati diri nasional merupakan sesuatu yang statis. Negeri Belanda adalah negeri imigrasi dan akan selalu demikian. Jadi banyak hal-hal dinamis yang dapat diperbuat untuk identitas nasional.’

Globalisasi

Menurut dewan ilmu pengetahun, WRR, Belanda tidak memiliki satu garis jati diri yang tetap. Dari dulu Belanda adalah negara migrasi. Oleh karena itu WRR mengusulkan supaya orang bersikap dinamis terhadap kewarganegaraan Belanda. Jadi penerapan nilai tinggi pada satu kewarganegaraan adalah terlalu kaku.

Namun para pengkritik kini menunjuk bahwa memiliki dua paspor justru membuktikan seseorang tidak bisa memilih negara mana. Namun Pauline Meurs membantah kritik itu. Akibat globalisasi, orang harus bisa menerima bahwa orang pada saat yang sama inign menjadi bagian negara lain.

Pauline Meurs: ‘Kenyataannya justru lain. Kita hidup di zaman globalisasi dengan terus berlanjutnya proses migrasi, sehingga makin sedikit jumlah orang yang hanya terikat pada satu negara. Orang merasa memiliki satu kota, satu negara atau bahkan dua negara. Kalau ada yang bilang seseorang harus memilih, maka itu jelas sikap gampangan. Dalam prakteknya, pada dunia globalisasi, kita harus menerima bahwa orang ingin terlibat pada beberapa kota atau tempat pada waktu yang sama. Dan kita bisa manfaatkan itu. Bukan saja masalah, tetapi juga bisa merupakan kesempatan berusaha dan apa saja di dunia yang mengglobal ini.’

Pandangan majemuk

Memiliki banyak identitas bisa juga merupakan keuntungan yang meningkatkan kesempatan. Laporan dewan ilmu pengetahuan untuk kebijakan pemerintah terutama ditujukan sebagai bahan diskusi. Politikus ekstrim kanan Geert Wilders berhasil mengarahkan debat umum di Belanda menjadi begitu berlawanan, kata Pauline Meurs:

Pauline Meurs: ‘Yang kami harapkan adalah memberi bahan pemikiran. Bahwa kami akan memulai diskusi baru, sehingga masyarakat tidak terpecah seperti sekarang. Bahwa orang-orang akan mulai memikirkan masalah ini, bahwa negara kami ini terbuka. Kami harus berurusan dengan masalah identitas nasional dalam cara yang lain dan kami berharap pula pemerintah mulai memikirkan ini. Namun itu bukanlah hal yang sangat penting. Yang lebih penting adalah media, pemerintah dan politisi, seperti kami kalangan ilmuwan dan peneliti mulai memikirkan bentuk ikatan lain dengan sebuah negara. Dan tidak lagi dalam pemikiran ganda, apakah seseorang menjadi Belanda atau tidak. Kami merasa lebih baik memiliki pandangan majemuk.’

Ada banyak cara bagaimana seseorang bisa merasa terikat pada satu negara, demikian Pauline Meurs anggota WRR. Putri Máxima, istri putra mahkota Belanda yang berasal dari Argentina, menerima eksemplar pertama laporan WRR itu. Máxima sendiri memiliki tidak hanya satu, melainkan dua paspor, yaitu paspor Belanda dan paspor Argentina, tempat kelahirannya.

Sumber:  Radio Nederland Wereldomroep (RNW)

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20070926075627

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s